Pukul 8 pagi adalah waktu dimana semuanya mulai berdatangan ke posko. Satu persatu datang lalu masuk ke posko sedangkan aku selalu karaoke menunggu kedatangan mereka setelah itu baru mandi untuk pergi mengisi dan mengantarkan absensi kehadiran ke kantor desa.
Setelah selesai, kegiatan rutin kami adalah sarapan, tetapi untuk pergi sarapan membutuhkan waktu yang lama, bukan karena perjalanannya yang jauh, melainkan sulitnya menentukan apa yang harus kami makan untuk sarapan, sehingga satu jam bisa habis hanya untuk keliling memikirkan tempat untuk sarapan.
Disamping itu, kami tetap melakukan kegiatan-kegiatan yang sudah terjadwal seperti kegiatan masyarakat, posyandu, gotong royong, dan lain-lain.
Setelah kegiatan wajib kami selesai, tibalah waktu makan siang yakni pukul 12 siang. Sama halnya pada saat mencari sarapan, itu terjadi juga saat ingin menentukan makanan apa yang diinginkan untuk makan siang.
Kita mulai dari kebiasaan pertama, aku adalah orang yang selalu mau cepat, karena cepatnya uang didalam tas tidak pernah tersusun dan berserakan. Tapi tenang ada Anggun yang selalu membereskan dan merapikan isi tas tersebut.
Tas itu bagaikan kantong Doraemon. Segala jenis benda ada didalam tas tersebut. Setelah makan siang, Khafis adalah orang yang mengambilkan tusuk gigi lalu diam-diam memasukkannya kedalam tas untuk bisa dibawa pulang. Mengapa demikian? Karena Dwi adalah orang yang selalu bertanya "Fin, ada tusuk gigi?" Dari situlah kebiasaan mengambil tusuk gigi ditempat makan tercipta.
Kendaraan kami juga unik. Maksudnya? Jadi gini, motornya bisa nyala tanpa kunci. Nah, pagi itu saat kami pergi, Motor yang dikendarai oleh Pepi ternyata hidup dan berjalan tanpa kuncinya (kuncinya hilang/tercecer). Seketika kami sibuk mencari dan mengulangi seluruh jalan yang telah kami lewati, sekita 2 kali putaran kami mencari, akhirnya kami temukan kunci tersebut di posko. Huft pencarian yang melelahkan.
Motor Reni juga sama keluhannya, bisa-bisanya mereka pergi ngajar ke sekolah, tapi kunci motornya tinggal diposko. Indah dan Reni kemana-mana berdua, waktu kami mau pergi jalan, eh mereka sibuk sendiri mencari kunci mereka yang hilang, bongkar sama bongkar sini, pas aku masuk kuncinya sangat jelas berada di sebelah lemari sambil menghela nafas panjang.
Oh iya kami punya dua Dwi, tapi beda panggilan (kalo aku ya) satu Dwi, satu lagi Khoe. Khoe ini ibu bendahara yang pegang semua uang kita, kalo jumpa aku pasti ngeluarin uang untuk bayar ini itu, soalnya aku yang sering pergi beli ini itu. Setiap mau belanja, "Ingat Bon, Ingat Nota" kata-kata yang menghantui.
Ricky dengan segala cerita fantasinya, dan kami menjadi pendengar setianya. Setiap Ricky mulai mengarang, disitulah kami duduk bersusun dan mendengarkan dengan baik ceritanya. Gelar "siap pakai" adalah gelar yang disematkan untuknya. Seharusnya gelar yang baik, tapi karena ada beberapa hal, gelar ini menjadi melenceng maknanya. Emang darah daging d*ckj*l sudah melekat (kata-kata yang sering aku ucapkan).
Kalo Khafis mendapatkan gelar terhormat yaitu "Buruh Serabutan" dan "Bapak Anak 2". Segala pekerjaan ia lakukan, mulai dari memaku, memotong, membuka, menutup, menyusun, merangkai, merubah, merakit, memperbaiki, membenahi, dan segala me lainnya. Oh iya, Khafis ini kalo chatnya ngga dibalas di grup WhatsApp pasti langsung ditariknya.
Pepi orang yang Ghoib, saat semua sedang ketawa-ketiwi, eh dia hilang, udah sampe aja dia dirumahnya. Tapi dia mudah mencairkan suasana. Dengan berbagai jokes yang ia keluarkan.
Anggun adalah teman dekatnya, (mungkin ya, menurut aku soalnya). Nah Anggun ini kalo pergi sama aku ya beli makan, makan dan makan. Kami orangnya sama, makan banyak tapi badan ya segitu-gitu aja. Sedih sih, tapi harus selalu bersyukur.
"Minum duduk Fin" kata-kata yang sering Reni ucapkan saat aku minum, emang aku agak susah kalo diingatkan, ya itulah yang selalu Reni bilang saat aku minum. Eh masih ada lagi, "fresh care Fin, minyak kayu putih Fin, dll" itu tandanya ia sedang pusing dan setelah itu pulang untuk istirahat, tapi setelah istirahat dia langsung sembuh dan datang lagi dengan sendirinya.
Indah mendapatkan gelar spesialis narasi log book. Setiap sore selesai kegiatan kita duduk melingkar, mengisi logbook, semuanya nunggu kiriman narasi dari Indah, tapi untuk semuanya mulai dari judul, tempat, pihak terlibat dan lain-lain itu tergantung aku, karena aku pemegang kendalinya wkwk. Oleh sebab itu, di logbook selalu nama aku pertama.
Apa kabar Uno kita ya? Biasanya disaat gabut kalau tidak lelah, pasti main Uno. Hukuman yang kalah adalah ditaburi bedak diwajahnya. Kapan lagi kita bisa main Uno bersama?
Apa lagi ya? Bingung, soalnya ada banyak kenangan yang harus dituliskan.
Sedih ya pasti, soalnya ini adalah sesuatu yang tidak akan bisa diulang, ini hanya bisa dikenang.
Kurang lebih 40 hari, kita melewati suka duka, tangis tawa, hujan panas dan hal-hal lainnya.
Apakah sudah cukup? Tentu tidak! Kita harus bisa bersama kembali bagaimanapun caranya
Oke?.....